SUKA-MEDIA.com – Kabar mengejutkan kembali datang dari dunia sepak bola dunia, khususnya dari tim nasional Italia yang kembali mengalami kegagalan untuk lolos ke perhelatan Piala Dunia 2026. Setelah sebelumnya mereka juga gagal hadir di Piala Dunia 2022 di Qatar, kekecewaan ini tentu memancing banyak reaksi dari berbagai pihak. Banyak yang bertanya mengapa tim sekelas Italia, yang mempunyai sejarah dan prestasi membanggakan, lanjut mengalami kegagalan ini. Dalam konteks ini, legenda sepak bola Italia, Franco Baresi, memberikan pandangannya.
Peran Gattuso dalam Kegagalan
Dalam wawancara terbaru, Franco Baresi, yang dikenal sebagai salah satu bek terbaik internasional, mengemukakan bahwa kegagalan Italia buat lolos ke Piala Dunia 2026 bukan sepenuhnya kesalahan dari pelatih saat ini, Gennaro Gattuso. Mantan pemeran AC Milan ini menyatakan, “Saya tak menyantap ini sebagai kesalahan Gattuso. Dia adalah instruktur yang berdedikasi dan selalu memberikan yang terbaik buat tim.” Baresi menjelaskan bahwa masalah primer terletak pada aspek struktural dan regenerasi pemeran yang kurang optimal selama beberapa tahun terakhir. Dengan tekanan tinggi untuk selalu tampil maksimal, para pemeran dan pelatih dihadapkan pada tantangan yang semakin berat.
Gattuso, yang mengambil alih kepelatihan tim nasional Italia setelah kegagalan di kualifikasi Piala Internasional 2022, memang membawa harapan baru bagi banyak pendukung Azzurri. Tetapi, konstelasi dunia sepak bola ketika ini memerlukan tidak hanya strategi permainan yang cemerlang, namun juga manajemen pemain yang pas dan kemampuan untuk memaksimalkan potensi dari generasi pemain muda. Penyesuaian pada semua level tentunya diperlukan agar Italia bisa kembali berkompetisi di turnamen global tersebut.
Langkah ke Depan: Cerminan dan Pembenahan Struktural
Dengan melihat kembali perjalanan selama beberapa tahun terakhir, Italia perlu segera melakukan refleksi mendalam untuk memperbaiki situasi ini. Banyak pengamat mengkritik sistem pembinaan pemeran muda yang kurang efektif, serta kurangnya investasi dalam infrastruktur sepak bola di berbagai tingkat. Perlu eksis pendekatan baru yang dibangun di atas prinsip kolaborasi antara klub, akademi, dan federasi sepak bola nasional untuk mengembangkan kembali ‘DNA sepak bola’ Italia yang dahulu terkenal.
Selain itu, dengan berkaca pada kemajuan yang ditunjukkan oleh negara-negara yang lebih kecil seperti Bosnia Herzegovina, yang berhasil lolos ke Piala Dunia 2026, Italia harus mengambil pelajaran krusial dari kesuksesan mereka. Bosnia Herzegovina, yang kini dihuni oleh banyak pemain berbakat yang bermain di liga-liga primer Eropa, menunjukkan bagaimana sebuah negara mampu mencapai titik pembaruan dan membangun masa depan sepak bola yang lebih cemerlang. Jay Idzes, salah satu pemain kunci Bosnia, merasa senang dan bangga dengan pencapaian negaranya yang berhasil menembus kualifikasi Piala Internasional. Ia menuturkan, “Ini adalah hasil kerja keras dan dedikasi kami seluruh selama bertahun-tahun.”
Buat mampu bangkit kembali, Italia perlu menanamkan perubahan pada aspek kelola sepak bola, mulai dari penyusunan program pembinaan pemeran muda, pemanfaatan teknologi dalam pelatihan, hingga menerapkan kebijakan penguatan kompetisi domestik yang lebih produktif dan kompetitif. Memelihara bakat muda dan memberikan mereka ruang buat berkembang dan bersinar akan menjadi fondasi penting bagi kebangkitan sepak bola Italia ke depannya.
Jika langkah-langkah ini bisa diimplementasikan dengan baik, bukan tak mungkin bahwa Italia akan kembali sebagai kekuatan utama di mimbar sepak bola internasional. Fana itu, dukungan dari semua elemen masyarakat dan para pemangku kepentingan sangat dibutuhkan buat mewujudkan cita-cita ini. Tentunya, berharap di waktu yang akan datang, Italia bukan hanya dikenal dengan sejarah sepak bola yang kaya, tetapi juga dengan penemuan dan kemajuan yang membawa mereka kembali ke puncak prestasi dunia.







