Skandal Identitas Akademik di UHO
SUKA-MEDIA.com – Universitas Halu Oleo (UHO) di Kendari baru-baru ini diguncang oleh skandal yang melibatkan perubahan identitas akademik alumni mereka di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti). Kejadian ini menggemparkan berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga anggota parlemen. Salah satu kasus yang mendapat sorotan adalah perubahan nama seorang alumni perempuan yang berubah menjadi nama laki-laki dalam data PDDikti. Peristiwa ini langsung menarik perhatian Komisi X DPR yang meminta klarifikasi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikti).
“Ayu Manda Putri, salah satu alumni UHO, mengalami perubahan data yang membuat identitasnya terlihat sebagai seorang laki-laki dalam sistem PDDikti. Ini adalah kesalahan serius yang harus segera diperbaiki,” ujar seorang personil Komisi X DPR. Berbagai pihak mendorong pemerintah dan pihak kampus buat melakukan penyelidikan segera dan memastikan tidak ada lagi kesalahan data serupa di masa mendatang.
Pengembalian Data dan Tindak Lanjut
Cantik Manda Putri kini dapat bernapas lega setelah data identitasnya berhasil dikoreksi dan dikembalikan seperti semula. Dia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada UHO yang menanggapi masalah ini dengan cepat. “Dataku di laman PDDikti sudah pulih, terima kasih kepada pihak kampus yang gercep (lekas tanggap),” kata Cantik. Bagaimanapun, insiden semacam ini menyoroti pentingnya keakuratan dalam manejemen data akademik dan menuntut peninjauan menyeluruh terhadap sistem pencatatan data di universitas.
Plt Rektor UHO, dalam pernyataannya, menyebutkan bahwa perubahan data tersebut mampu jadi disebabkan oleh kesalahan teknis atau manusia. Namun, hal ini telah ditangani dengan segera oleh tim IT universitas. Mereka berkomitmen buat menaikkan sistem pengamanan data agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Sebagai cara tindak terus, universitas berencana melakukan audit sistem secara rutin dan mengadakan pelatihan buat staf yang bertanggung jawab atas pengelolaan data. Dengan demikian, peristiwa ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi universitas lain terkait pentingnya menjaga keakuratan dan keamanan data akademik.







